i think, pernikahan, Tips tips

30 tahun belum menikah

salam super,
pemirsa yang budiman, tiba tiba aja saya ingin menulis satu keadaan yang banyak terjadi belakangan ini di sekitar kita. di perkantoran terutama, dimulai dari pertanyaan, kapan usia yang tepat untuk menikah?
untuk pria kebanyakan akan menjawab idealnya 30-35 tahun, saat mereka sudah punya pekerjaan yang mapan, rumah yang mapan (minimal udah punya uang buat bayar DP nya), mobil yang mapan, dan lifestyle yang mapan.
untuk wanita, surprisingly, belakangan ini akan kita dapat jawaban yang sama. ini yang menarik.
di indonesia seperti kita tau, lingkungan lah yang dengan”berbaik hati” membuatkan target untuk kita.
tepat sejak kita baru lahir
tetangga kita akan sangat rajin bertanya pada ibu kita, anaknya udah bisa tengkurep belum?, udah bisa jalan belum? giginya udah berapa? sekolah dimana? rengking berapa? kuliah dimana? udah lulus belum? udah kerja belum? udah punya pacar belum? pacarnya kerja dimana? kapan nikah? kapan punya anak? kapan punya rumah? kapan punya mobil? kapan punya anak lagi? jadi terkadang kita terbiasa pada target yang mungkin bukan target kita. apalagi saat kita menyalahi atau melangkahi urutan tersebut, misalnya kita punya pacar dulu baru sekolah atau punya anak dulu baru nikah, lingkungan sekitar kita akan dengan senang hati menjadi tim pertama yang mencaci maki kita, karena apa? karena kita menyalahi urutan yang umum di masyarakat. jadi saatnya kita bertanya, apakah kita punya target sendiri? target yg tidak dibentuk oleh opini masyarakat.
balik lagi ke opini masyarakat, cowo belum nikah pada umur 30 akan disebut mature, cewe belum nikah pada umur 30 akan disebut perawan tua.tidak adil? mau protes?tidak perlu, biarkanlah anjing menggonggong kafilah berlalu.
kita punya hak untuk menentukan target hidup kita sendiri, bukan target yang dibentuk oleh masyarakat.
di kantor saya banyak cewe yg baru nikah umur 30, beberapanya udah pacaran lama juga ampe 5 tahunan, jadi belum menikah tidak sama dengan perawan tua atau tidak laku.
dan lagi banyak ko yg still single and very happy kaya judu lagu.
menikah itu bukan pelengkap yang membuat orang yang tidak menikah berarti tidak lengkap.
saya sudah menikah,
dan untuk saya menikah itu previledge🙂

‘privilege’
noun
1. a special advantage or immunity or benefit not enjoyed by all

2. a right reserved exclusively by a particular person or group (especially a hereditary or official right)
suffrage was the prerogative of white adult males
source: wordnet30

3. (law) the right to refuse to divulge information obtained in a confidential relationship
source: wordnet30

4. A peculiar benefit, advantage, or favor; a right or immunity not enjoyed by others or by all; special enjoyment of a good, or exemption from an evil or burden; a prerogative; advantage; franchise.
source: webster1913

verb
5. bestow a privilege upon
source: wordnet30

6. To grant some particular right or exemption to; to invest with a peculiar right or immunity; to authorize; as, to privilege representatives from arrest.

Standard

3 thoughts on “30 tahun belum menikah

  1. Turi says:

    Saya setuju alfitaaa!!
    Kebanyakan di sini orang bertindak sesuai dengan apa yg lingkungan harapkan..
    Bukan karena apa yg dilakukan adalah hal yg paling membuat diri sebdiri nyaman..
    Dan bukan karena apa yg menurut diri sendir benar..
    Banyak pula orang yg menikah dengan alasan “sudah cukup umur” atau “mau cari apalagi” yang berujung pada menikah dengan “siapa aja yg udah di depan mata”..
    Bukan karena keinginannya sendiri, dan bukan karena merasa dirinya mampu untuk bertanggung jawab, dan bukan karena he or she can imagine him or herself be with the person for the rest of their life..
    Menurut saya tiap orang goal -nya boleh beda2, ada yg goal-nya karir, ada pula yg goal-nya berkeluarga secepatnya…
    Makanaya kadang2 ga abis pikir juga.. Hehehe
    Temen gw ada yg cerita, about groups of monkeys.. So someone was doing a research, he put those monkeys in a room, and they put a pole, with a banana on the top of the pole..
    The twist was the ground was flowed by electricity if the pole is being touched, so the monkeys were trying to climb the pole, and some of the monkeys that were still on the ground, of course were shocked by the electricity..
    They kept trying, until at some point, they realize that if one of them is trying to take the banana, the other monkeys will get shocked by the electricity..
    So afterwards, if one of them trying to climb the pole, it will get beaten up by the other monkeys.. so they stopped trying..
    But then, the researcher took out some of the monkey, and changed them with another new group of monkey… Of course, this new group of monkeys, were trying to take the banana, and of course, they got beaten up by the old group of monkeys cause they afraid of got shocked again..
    And then, they stopped trying to take the banana too..
    So I think basically, di sini masih bgitu tonk, people do what society asked them to do, not what they think it’s the best thing to do, or what they believe that it’s the best thing to do..
    Gituuu looohhh….
    Panjaanngg.. Huuufff….😀
    Jd intinya, saya sih msh belum siap, bukan krn belum laku.. Hhahaha
    Jd biarlah anjing mengonggong, kafilah berlalu…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s