Uncategorized

Baby blues

Buat saya, minggu minggu pertama punya bayi adalah minggu paling roller coaster dalam hidup saya. Sama seperti betapa pd nya saya akan bisa lahiran normal (dan ternyata tidak) saya jg pd ga bakal ngalamin baby blues (dan ternyata iya).
Dengan luka habis sc, asi yg ga keluar, puting yg belah karena lecet, saya beneran ngerasa helpless. Saya masih mengkonsumsi obat bius yg dimasukkan dr belakang sampai 3 hari setelah oprasi, masih suka linglung, gerakin badan aja susah. Dan kenyataan bahwa menyusui itu oh mai gad susahnya terlebih dgn tubuh bayi yg masih sangat kecil dan terasa sangat rapuh bikin waktu menyusui menjadi waktu yg paling bikin saya stress.
Saat itu orang di sekeliling saya bikin saya ngerasa makin hopeless, selalu saja ada yg salah, cara ganti popoknya, cara gendongnya, cara menyusuinya, padahal saya sudah berusaha keras. Sepertinya tidak ada yg notice dgn keadaan saya. Intinya saya merasa sudah berusaha 110% dan orang sekitar saya merasa saya hanya berusaha 10%. Sampai akhirnya saya berpikir, saya tidak akan pernah bisa menjadi ibu yang baik.
Here comes the baby blues.
Saya berusaha untuk mengabaikan si baby blues ini, saya mem push diri saya lebih jauh lagi.
Saya menolak untuk memakai kursi roda, saya mengantarkan sendiri setiap mili asi yg saya dapat ke ruang penyinaran, walaupun jalan masih tertatih Dan harus berhenti setiap 3 langkah, saya perah asi saya sampai kedua puting saya lecet, saya tidak membiarkan anak saya digendong orang lain kecuali saya, saya ganti sendiri popoknya walau butuh usaha ekstra untuk saya bolak balik gerak Di awal perawatan rumah sakit. Saya mem push diri saya untuk menolak dikatakan tidak bisa menjadi ibu yang baik.
Sampai satu malam, saat melihat dia tidur dengan damainya, saya mengerti bagaimana rasanya jadi orang tua. Selama ini mungkin kita suka kesal dengan orangtua kita yg cerewet mengingatkan kita berkali Kali untuk berhati hati, untuk makan tepat waktu, untuk menjaga kesehatan. Kita merasa sudah dewasa Dan tidak perlu terus dicereweti.
Setelah jadi ibu, saya tau betapa besarnya rasa khawatir yang seorang ibu miliki.
Kita bisa tidak tidur semalaman hanya untuk menjaga bayi kita tidak digigit nyamuk.
Saya sempat menunggu sendiri semalaman diluar ruang penyinaran karena saat mengantar asi saya mendengar dia menangis.
Menjadi ibu, membuat saya tau Apa yang ibu rasakan, lalui, takuti, khawatirkan.
Ternyata seorang ibu tidak butuh apapun untuk membuat dia bahagia. Cukup melihat senyum diwajah anaknya.
Being a mom, membuat saya semakin mencintai ibu saya….berkali Kali lipat dari sebelumnya.

Standard

2 thoughts on “Baby blues

  1. storitie says:

    ahhh so sweettttttt *pelukk
    kamu akan menjadi the greatest mother for your babies melebihi greatest hits di radio.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s