Uncategorized

Homeschooling, yaayy or naayy

Berapa tahun belakangan, Indonesia mulai mengalami pergeseran sistim pendidikan yang signifikan. Keluhan mulai muncul dari seringnya terjadi perubahan kurikulum, content text book yang tidak sesuai, indikasi masuknya unsur pornografi Dan kekerasan dalam buku pelajaran Dan bullying yg semakin parah.
Alternatif diluar sistem pendidikan formal pun mulai bermunculan, yang paling terkenal tentunya homeschooling.
Dulu mungkin yg kita kenal dari homeschooling adalah sistem belajar Di rumah, memindahkan kurikulum pelajaran dari sekolah ke rumah. Sistem ini biasa diambil oleh para artis muda atau anak anak yg tidak diterima Di sekolah formal karena satu Dan lain Hal.
Tetapi sekarang, homeschooling menjadi pilihan yg cukup terkenal untuk diambil, terutama Di kota besar seperti Jakarta. Homeschooling bukan memindahkan kurikulum sekolah formal ke rumah, homeschooling lebih seperti sistem belajar mandiri, sesuai dengan minat Dan bakat yang ingin kita kembangkan, sehingga anak tidak terbebani dengan kurikulum yang terlalu banyak tetapi tidak mendasar. Membuat anak anak belajar dengan fun, belajar substansi dari suatu ilmu sehingga yg dia pelajari bukan mukanya saja tetapi sampai dalamnya.
Kalau kata saya sih, homeschooling membutuhkan komitmen berkali Kali lipat dari si pembimbing dibandingkan sistem manapun. Pembimbing yang bisa saja orang spesialis atau kita sendiri sebagai orang tua, harus selalu in touch Dan concerned dengan perkembangan si anak.
Saya juga punya anak, saya juga sedang mencari sistem pendidikan paling nyaman Dan baik untuk anak saya. Dan saya sejauh ini, tidak akan memilih sistem homeschooling untuk anak saya.
Iya, ini sistem yg bagus Dan tidak mengikat anak, selama..kita memegang komitmen kita dengan sangat baik. Dan komitmen adalah suatu Hal yg sangat besar.
Saya akan memilih sistem pendidikan formal, dengan tambahan pendampingan Di rumah.
Kegagalan dari Sistem pendidikan formal adalah saat kita kehilangan kontrol atas anak kita. Saat kita terlalu percaya dengan institusi pendidikan.
Sejauh ini, saya juga belum terpikir untuk memasukkan arslan ke sekolah asrama atau sekolah yg berlandaskan agama, atau sekolah terpadu semi asrama yg sekolahnya dari pagi sampai sore.
Sejauh ini, saya ingin sekolah yg fun Dan membuat arslan semangat setiap hari, arslan bisa pulang siang Dan tidur siang, belajar mengaji Di sore hari, ngobrol tentang hari ini ngapain aja, belajar Dan ngerjain pr bareng sama saya Dan papahnya, terus tidur malam sambil tersenyum.
Jadi sampai sekarang, saya masih say nay untuk homeschooling🙂 karena saya masih takut, takut untuk mengambil tanggung jawab yg terlalu besar andai sistem homeschooling yg saya terapkan tidak berhasil. Dan harusnya kalau kita punya kontrol atas sistem pendidikan formal dengan pendampingan saat Di rumah, masalah yg akan timbul dari kekurangan sistem pendidikan normal dapat kita minimalisir kan?🙂

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s